Duduk diatas tanah dan dikelilingi reruntuhan bangunan sekolah, para guru perempuan tetap mengajar murid-muridnya.
Perlawanan terhadap Taliban tidak hanya dilancarkan pemerintah Pakistan. Tapi juga oleh perempuan yang tinggal di negeri itu, Khusunya mereka yang hidup di daerah yang dikuasai Taliban.
Di lembah Swat, wilayah yang menjadi basis utama pergerakan Taliban, para perempuan menentang kelompok ini dengan tetap menjalankan proses bejar mengajar untuk anak-anak perempuan di desa itu, meskipun sekolah mereka telah dihancurkan.
“Ruang kelas ini biasanya digunakan untuk murid-murid yang lebih muda,” ujar Parveen Begum, kepala sekolah dasar Kanju Chowk. Kanju Chowk merupakan sekolah khusus untuk anak perempuan dengan guru perempuan pula. Awal tahun ini, sekolah dasar itu porak poranda oleh serangan Taliban. Alasan penyerangan sederhana, guru sekolah itu perempuan dan murid-muridnya pun perempuan.
“Semua murid menangis saat melihat apa yang telah dilakukan militan terhadap sekolah mereka,” lanjut Parveen yang menutup wajahnya dengan shal putih. Kepada BBC, Parveen berkisah, sebelum sekolahnya dihancurkan, Taliban beberapa kali mengirim surat ancaman kepadanya. “Mereka mengancam jika kami tidak menutup sekolah, mereka akan menghancurkannya termasuk kami yang ada di dalamnya,” ungkap dia. Ancaman itu tentu menakutkan. Tidak hanya karena mereka perempuan, tapi juga karena murid sekolah itu semuanya anak-anak.
Tapi karena didorong oleh keinginan agar anak-anak perempuan di desa itu tidak buta huruf, setidaknya bisa membaca, ketakutan itupun sirna. Mereka tetap membuka sekolah.
Nah keputusan inilah yang membuat Taliban murka. Sekelompok Taliban kemudian mendatangi sekolah itu dan menemui Parveen. “Mereka memberikan pilihan, kami dapat tetap membuka sekolah asalkan pakai burqa (pakaian yang menutup seluruh wajah dan tangan hingga ujung kaki), termasuk anak-anak perempuan,” katanya. Demi keamanan dan proses belajar mengajar tetap berlangsung, Parveen menuruti keinginan itu.
Namun janji tinggal janji, Taliban ternyata berbohong. Mereka tetap menghancurkan sekolah Kanju Chowk, hingga sekolah itu menjadi salah satu di antara 300 sekolah yang dihancurkan Taliban.
Tapi toh, usaha itu hanya sia-sia. Ancaman dan senjata Taliban ternyata tak mampu memadamkan hasrat memperoleh pendidikan bagi perempuan di desa itu.
“Di dalam bangunan sekolah yang rusak ini kami dapat mendengar suara gadis-gadis kecil melapalkan huruf-huruf, inilah yang membuat kami bersemangat untuk membuka sekolah lagi,” ujar Parveen. Dia dan teman-temannya memindahkan tempat belajar di halaman sekolah. Mereka mengajar sekitar 30 murid, mulai umur empat tahun. Semuanya duduk diatas tanah yang dikelilingi reruntuhan bangunan sekolah. (BBC )