Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Demi sebuah mimpi. Itulah alasan singkat yang membuat Daoud Sediqi hengkang dari Afghanistan. Kendati sangat mencintai tanah airnya itu, apalagi orangtua dan keluarga besarnya masih tinggal di Afganistan, namun perang yang terus berkecamuk membuatnya nekat meninggalkan popularitas yang telah diraihnya di negeri Mullah itu.

Putusan ini diambil Januari lalu. Tepatnya saat menghadiri Festival Film Sundance di Amerika Serikat. Saat itu Sediqi yang berprofesi sebagai presenter Afgan Star, semacam Indonesia Idol yang sangat digemari kaum muda Afganistan, mengikuti acara bergengsi itu untuk mengangkat sebuah film dokumenter Inggris tentang Afgan Star. Film ini meraih dua penghargaan.

Namun kemenangan itu tak serta merta membuat Sediqi bangga. Sebaliknya dia mulai merasa cemas. Terutama terhadap ancaman kematian dari Taliban yang terus menerus menerornya. Demi kelangsungan hidup dan mimpi-mimpinya yang mulai menemukan titik terang, Sediqi pun memanfaatkan kemenangan itu untuk mencari suaka di Amerika.

“Saat saya memberitahu orang-orang bahwa saya berasal dari Afganistan, kata pertama yang keluar dari mulut mereka adalah Usamah, Taliban, perang,” tutur Sediqi tentang pengalaman pertamanya setelah diterima menjadi warga Amerika.

Tapi toh kata-kata sisnis itu tak membuatnya berkecil hati. Sebaliknya dalam berbagai kesempatan dia terus berusaha menghapus kesan negatif orang-orang barat terhadap Afganistan. “Saya tidak bisa menyalahkan mereka, memang itulah hal-hal yang mereka saksikan di TV setiap waktu. Tapi percayalah padaku ada banyak cerita bagus di Afganistan, banyak orang-orang baik. Bagaimanapun Afganistan itu indah,” ucapnya membela tanah kelahirannya saat diwawancara BBC, di Washington.

“Lihatlah diri saya. Saya tidak seperti Taliban meskipun saya lahir dan besar di Kabul. Saya asli Afganistan,” ia meyakinkan.

Menampilkan gambaran yang lebih baik tentang Afganistan, itulah mimpi sekaligus misi Sediqi. Agar dapat merengkuh mimpi itu, Sediqi pun melamar pekerjaan ke Voice of America (VoA). Dengan kerja keras, ia akhirnya diterima sebagai salah satu pembawa acara radio VoA untuk pendengar di Afganistan.
Pekerjaan baru ini tak hanya membuatnya merasa menemukan kembali suaranya. Tapi juga membantunya membuka jalan untuk berhubungan kembali dengan orang-orang yang dicintai yang telah ditinggalkannya. “Saya mulai berpikir tentang hal yang lebih besar,” katanya.

Dia menekankan suatu saat setelah mendapatkan sesuatu yang lebih besar yang bisa diadopsi negaranya, dia akan kembali ke Afganistan. “Saya ingin menjadi sutradara film, saya ingin menunjukkan sebuah gambaran yang bagus tentang Afganistan, ini mimpiku,” katanya. (BBC)

Seoul – Inilah mungkin rekor terlama ujian untuk mendapat surat ijin mengemudi (SIM). Seorang perempuan di Korea Selatan, Cha Sa-soon, dilaporkan mengikuti ujian tertulis hingga 950 kali baru kemudian dinyatakan lolos oleh polisi di Jeonju, 210 kilometer selatan Seoul.

Ujian demi ujian dilakoni oleh perempuan 68 tahun itu sejak April 2005. Tak hanya waktu, ia pun telah mengeluarkan uang hingga 4.200 dolar atau 39,6 juta rupiah untuk meraih cita-citanya itu. Namun sayang dia selalu dinyatakan gagal.

Menurut Choi Young-chul, seorang petugas polisi di bagian ijin mengemudi, Cha gagal karena tidak bisa memperoleh nilai minimum 60 dari 100 nilai yang diperlukan agar bisa duduk mengemudi dibelakang strir.
Tapi Rabu lalu, Cha akhirnya berhasil membuktikan kerja kerasnya. Dia dinyatakan lolos kendati hanya berhasil meraih skor 60.Sekarang dia tinggal membuktikan kepada polisi apakah dia mampu melewati ujian megendarai mobil atau tidak, sebelum benar-benar mendapat SIM.

Kepada surat kabar Korea Times, Cha bertutur dia berkeras mendapat SIM demi kelancaran bisnis penjualan sayur-mayurnya. (AP)

Duduk diatas tanah dan dikelilingi reruntuhan bangunan sekolah, para guru perempuan tetap mengajar murid-muridnya.

Perlawanan terhadap Taliban tidak hanya dilancarkan pemerintah Pakistan. Tapi juga oleh perempuan yang tinggal di negeri itu, Khusunya mereka yang hidup di daerah yang dikuasai Taliban. 

Di lembah Swat, wilayah yang menjadi basis utama pergerakan Taliban, para perempuan menentang kelompok ini dengan tetap menjalankan proses bejar mengajar untuk anak-anak perempuan di desa itu, meskipun sekolah mereka telah dihancurkan.

“Ruang kelas ini biasanya digunakan untuk murid-murid yang lebih muda,” ujar Parveen Begum, kepala sekolah dasar Kanju Chowk. Kanju Chowk merupakan sekolah khusus untuk anak perempuan dengan guru perempuan pula. Awal tahun ini, sekolah dasar itu  porak poranda oleh serangan Taliban. Alasan penyerangan sederhana, guru sekolah itu perempuan dan murid-muridnya pun perempuan.

“Semua murid menangis saat melihat apa yang telah dilakukan militan terhadap sekolah mereka,” lanjut Parveen yang menutup wajahnya dengan shal putih. Kepada BBC, Parveen berkisah, sebelum sekolahnya dihancurkan, Taliban beberapa kali mengirim surat ancaman kepadanya. “Mereka mengancam jika kami tidak menutup sekolah, mereka akan menghancurkannya termasuk kami yang ada di dalamnya,” ungkap dia. Ancaman itu tentu menakutkan. Tidak hanya karena mereka perempuan,  tapi juga karena murid sekolah itu semuanya anak-anak.

Tapi karena didorong oleh keinginan agar anak-anak perempuan di desa itu tidak buta huruf, setidaknya bisa membaca, ketakutan itupun sirna. Mereka tetap membuka sekolah.

Nah keputusan inilah yang membuat Taliban murka. Sekelompok Taliban kemudian mendatangi sekolah itu dan menemui Parveen. “Mereka memberikan pilihan, kami dapat tetap membuka sekolah asalkan pakai burqa (pakaian yang menutup seluruh wajah dan tangan hingga ujung kaki), termasuk anak-anak perempuan,” katanya. Demi keamanan dan proses belajar mengajar tetap berlangsung, Parveen menuruti keinginan itu.

Namun janji tinggal janji, Taliban ternyata berbohong. Mereka tetap menghancurkan sekolah Kanju Chowk, hingga sekolah itu menjadi salah satu di antara 300 sekolah yang dihancurkan Taliban.

Tapi toh, usaha itu hanya sia-sia. Ancaman dan senjata Taliban ternyata tak mampu memadamkan hasrat memperoleh pendidikan bagi perempuan di desa itu. 

“Di dalam bangunan sekolah yang rusak ini kami dapat mendengar suara gadis-gadis kecil melapalkan huruf-huruf, inilah yang membuat kami  bersemangat untuk membuka sekolah lagi,” ujar Parveen. Dia dan teman-temannya memindahkan tempat belajar di halaman sekolah. Mereka mengajar sekitar 30 murid, mulai umur empat tahun. Semuanya duduk diatas tanah yang dikelilingi reruntuhan bangunan sekolah.  (BBC )

Gadis Belia Bunuh Diri Demi Ayahnya

Entah apa yang ada di pikiran Chen Jin. Cinta yang begitu dalam kepada sang ayah membuatnya rela mengakhiri hidupnya. Langkah nekad ini diambil setelah gadis 13 tahun itu tanpa sengaja menemukan catatan medis ayahnya sebulan lalu. 

Ayahnya yang sedang di rawat di rumah sakit, dinyatakan menderita kanker hati dan hanya bisa bertahan hidup selama tiga bulan. Menurut catatan yang ditemukan di dompet ibunya tersebut, sang ayah bisa hidup lebih lama jika hatinya diganti dengan yang baru. 

Tanpa pikir panjang, Chen yang baru saja pulang menjenguk ayahnya, berusaha bunuh diri agar bisa menyumbangkan hatinya untuk sang ayah. Gadis yang tinggal di Wuxi, Propinsi Jiangsu Cina itu menelan 200 pil tidur dan menyengat dirinya dengan kabel listrik setelah kesadarannya menurun. 

Ibunya, Cui Lan, baru mengetahui kejadian ini sepulang dari rumah sakit pada 24 Januari. Ketika pulang, perempuan 43 tahun itu, mendapatkan rumahnya terkunci dari dalam. Dia akhirnya bisa masuk setelah memanjat halaman belakang. Tapi betapa hancurnya hati Cui, ia menjumpai putrinya dalam keadaan sekarat. “Dia berbaring di tempat tidur seperti orang yang sudah meninggal,” katanya sambil belinang air mata. Dia menemukan dua botol pil tidur yang sudah kosong dan surat di samping tubuh putrinya. 

“Ibu maafkan, saya tidak bisa hidup lebih lama denganmu. Tolong berikan hatiku ke ayah dan rawat dia setelah saya meninggal,” tulis Chen di sebuah kertas. 

Menurut Cui, kemungkinan anaknya menelan pil setelah menjenguk ayahnya di rumah sakit beberapa hari lalu. “Dia sangat mencintai ayahnya melebihi cintanya kepada diri sendiri,” kata Cui yang pernah bekerja sebagai buruh pabrik. 

Kini Chen telah di rawat intensif di rumah sakit yang sama dengan ayahnya. Ia mengalami koma selama tiga hari dan kemungkinan akan dioperasi.

Chen nekad bunuh diri karena keluarganya tak mampu membeli hati baru untuk ayahnya. Pendapatan orangtuanya hanya 1000 yuan atau US 146 dollar per bulan. Tak hanya itu, mereka juga harus berjuang untuk memperoleh 100.000 yuan untuk biaya pengobatan ayah Chen yang telah dirawat selama sebulan. Untuk menjaga perasaan sang suami, Cui tak memberitahunya tentang kejadian ini.

(XINHUA/The STRAITS TIMES/AFP)

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.